Sambut HUT PWKI ke-80 dan 22 Tahun PWKI Waropen, Ny. Veronika: Perempuan Harus Jadi Agen Perubahan

Penasehat PWKI Waropen menyerahkan hidangan pangan lokal kepada Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si sebagai ungkapan syukur dalam perayaan menyongsong HUT PWKI ke-80 sekaligus HUT PWKI Kabupaten Waropen ke-22. (Ft: Tamrin/mepago.co)

WAROPEN | MEPAGO.CO – Persekutuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Waropen genap berusia 22 tahun pada 28 Februari 2026. Hal itu disampaikan Penasehat PWKI Waropen, Ny. Veronika Dedaida Tanati, dalam ibadah syukur menyongsong HUT PWKI ke-80 yang digelar di Gereja GPDI Getzemano Batu Zaman, Jumat (27/2/2026).
Ibadah syukur tersebut turut dihadiri Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, Ketua TP PKK beserta pengurus, Ketua GOW, Ketua Dharma Wanita, pengurus Bhayangkari Polres Waropen, Persit Koramil Waropen Bawah, serta para kaum perempuan dari berbagai denominasi gereja.

Ny. Veronika menjelaskan, peringatan HUT ke-22 sejatinya jatuh pada 28 Februari 2026. Namun karena bertepatan dengan peringatan Hari Pekabaran Injil, pengurus sepakat memajukan ibadah syukur.

Para wanita tentu akan terlibat dalam pelayanan Pekabaran Injil. Karena itu HUT kami majukan, tetapi ucapan syukur tetap kami naikkan sebagai awal menjalankan program kerja tahun 2026,” ujarnya.

Foto atas: Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si didampingi jajaran pengurus dan penasehat PWKI, Ketua TP PKK, Ketua GOW, Persit Koramil Waropen, serta Bhayangkari Polres Waropen saat meniup lilin dalam ibadah syukur PWKI.
Foto bawah: Bupati Mote bersama jajaran pengurus dan organisasi perempuan berfoto bersama usai rangkaian perayaan, menandai kebersamaan dan komitmen perempuan Waropen dalam pelayanan. (Ft: Tamrin)

Ia juga berpesan agar kepengurusan PWKI Waropen didaftarkan secara resmi ke Kesbangpol, sehingga ke depan organisasi dapat memperoleh perhatian dan dukungan pemerintah daerah.

Menurutnya, perempuan Kristen harus peka terhadap berbagai tantangan zaman.

Kita bersyukur Waropen tetap aman. Mari bersatu dan menjadi berkat, dimulai dari keluarga. Perempuan Kristen tidak boleh hanya bersenang-senang, tetapi harus hidup dekat dengan Tuhan,” tegasnya.

Ny. Veronika mengenang perjuangan pelayanan sejak awal berdiri di Waropen, di tengah keterbatasan infrastruktur dan transportasi, baik darat maupun laut. Meski penuh tantangan, semangat pelayanan tidak pernah surut.

Ia menegaskan, keterlibatan berbagai paduan suara dan organisasi perempuan bukan sekadar formalitas, melainkan bukti kesiapan bersama dalam mendukung pelayanan. PWKI harus menjadi wadah yang melahirkan perempuan Kristen sebagai agen perubahan.

Mari saling menyapa, jangan suka membicarakan orang. Jadilah perempuan Kristen yang membawa damai,” pesannya.

Dalam aspek pemberdayaan ekonomi keluarga, ia mendorong para wanita memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam cabai, sayur, terong, dan tanaman produktif lainnya.

Ada berkat di halaman rumah, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” katanya.

Ia juga berharap dukungan Bupati Waropen terhadap pelaksanaan MUNAS DPP PWKI di Papua, sekaligus Muscab se-Tanah Papua dan Musda di Waropen. Selain itu, ia mendorong PWKI terus berkolaborasi dengan TP PKK Waropen dalam memperkuat peran perempuan di daerah.

Kepada generasi muda, Ny. Veronika berpesan agar mampu mengatur waktu antara pelayanan dan kesibukan pribadi.

“Jangan mudah berkata di media sosial ‘Saya tidak sanggup.’ Hiduplah rukun dalam keluarga. Jika suami bekerja di Waropen, keluarga harus tinggal bersama,” nasihatnya.

Sejak menetap di Waropen pada 2003, ia mengaku turut merintis TP PKK, Dharma Wanita, dan PWKI. Komitmennya jelas: setiap perempuan Kristen diharapkan mampu mengajak minimal satu ibu menghadiri ibadah berikutnya.
“Sebagai wanita Kristen, kita harus menjadi agen perubahan,” tutup Ny. Veronika Dedaida Tanati penuh harap.

 

Penulis: Tanrin Sinambela

Editor: Tamrin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *