Kepala SDN Inpres Sawara Jaya, Tris Theo Yafet Waromi, S.Pd. (Ft: Tamrin/mepago.co)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Pemutusan penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Inpres Sawara Jaya, Distrik Waropen Bawah, menuai kekecewaan dari pihak sekolah, mulai dari kepala sekolah, dewan guru, orang tua hingga para siswa. Pasalnya, pihak sekolah menyebut data 94 siswa dan 13 guru telah sinkron dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga penghentian program tersebut menimbulkan tanda tanya besar, di tengah harapan anak-anak untuk mendapatkan asupan gizi yang layak, pihak sekolah meminta penyelenggara MBG memberikan penjelasan sekaligus mengevaluasi keputusan tersebut.
Kini harapan anak-anak untuk menikmati makanan bergizi di sekolah berhadapan dengan kenyataan yang mengecewakan. Dimana penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Inpres Sawara Jaya, Distrik Waropen Bawah, terhenti. Kondisi ini disayangkan pihak sekolah yang menilai program tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan semangat belajar peserta didik.

Kepala SDN Inpres Sawara Jaya, Tris Theo Yafet Waromi, S.Pd., menegaskan bahwa pihak sekolah, dewan guru, orang tua, dan siswa menyayangkan penghentian penyaluran MBG yang disebut dilakukan secara sepihak, tanpa penjelasan yang diketahui pihak sekolah.
“Kami sangat menyayangkan pemutusan penyaluran MBG di sekolah kami. Sepengetahuan kami, tidak ada persoalan dengan data peserta didik karena sudah sinkron dengan Dapodik. Jumlah siswa kami sebanyak 94 orang dan guru 13 orang,” tegas Waromi kepada awak media.
Menurutnya, penghentian tersebut bukan sekadar persoalan distribusi makanan, melainkan menyangkut harapan anak-anak sekolah yang selama ini menantikan kehadiran program pemenuhan gizi tersebut. Antusiasme siswa ketika MBG mulai disalurkan di sekolah menjadi bukti betapa besar arti program itu bagi mereka.
Ia menilai, program MBG membawa kebahagiaan tersendiri bagi peserta didik. Karena itu, ketika penyalurannya terhenti, muncul kekecewaan dan pertanyaan mengenai keberlanjutan program yang selama ini menjadi harapan bagi anak-anak di lingkungan sekolah.
“Ketika MBG hadir di sekolah kami, euforia dan kegembiraan anak-anak begitu tinggi. Mereka menyambut program ini dengan penuh antusias. Karena itu, kami sangat berharap program ini tidak terhenti begitu saja, apalagi jika tidak ada persoalan data yang kami ketahui,” ujarnya.
Waromi pun mempertanyakan bagaimana keberlanjutan pelaksanaan program prioritas Presiden di bidang pemenuhan gizi apabila sekolah yang merasa telah memenuhi persyaratan justru tidak lagi menerima penyaluran.
Pihak sekolah berharap penyelenggara MBG tidak menutup mata terhadap kondisi yang dialami para siswa di SDN Inpres Sawara Jaya. Jika terdapat kendala administratif, teknis, maupun persoalan lain dalam pelaksanaan program, sekolah berharap hal tersebut dijelaskan secara terbuka dan dicarikan solusi bersama, bukan dibiarkan tanpa kepastian.
Bagi sekolah, MBG bukan sekadar makanan yang dibagikan pada jam belajar. Program tersebut merupakan bentuk perhatian terhadap kebutuhan gizi anak, sekaligus dukungan agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih baik.
Waromi menegaskan bahwa pihaknya sangat membutuhkan keberlanjutan program tersebut untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Ia juga berharap perhatian terhadap kondisi gizi anak-anak terus ditingkatkan, termasuk melalui pemantauan yang tepat terhadap risiko kekurangan gizi dan stunting.
“Kami berharap MBG dapat kembali disalurkan di sekolah kami. Anak-anak membutuhkan program ini untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi mereka. Kami ingin mereka tetap sehat, bersemangat datang ke sekolah, dan belajar dengan baik,” harapnya.
Ia meminta penyelenggara MBG segera melakukan evaluasi, memberikan penjelasan mengenai alasan penghentian penyaluran, serta memastikan apakah terdapat persyaratan yang perlu dilengkapi oleh pihak sekolah.
Penghentian penyaluran MBG di SDN Inpres Sawara Jaya menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Tujuan program pemenuhan gizi bagi anak sekolah akan sulit tercapai secara optimal apabila pelaksanaannya di lapangan tidak disertai komunikasi yang jelas dan mekanisme penyelesaian kendala yang cepat.
Pihak sekolah berharap pemerintah dan penyelenggara MBG dapat memberikan perhatian serius agar hak dan kebutuhan peserta didik tetap menjadi prioritas. Jika memang terdapat alasan yang mendasari penghentian, penjelasan yang transparan sangat diperlukan agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan sekolah dan orang tua.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlanjutan distribusi makanan, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program yang ditujukan bagi masa depan generasi muda.
Jangan sampai anak-anak yang begitu gembira menyambut MBG justru harus menanggung kekecewaan akibat persoalan yang tidak mereka pahami. Mereka tidak membutuhkan polemik, melainkan kepastian bahwa kebutuhan gizi dan kesempatan belajar yang lebih baik tetap mendapat perhatian.
Kini, pihak sekolah menanti jawaban dan langkah nyata dari penyelenggara MBG agar program tersebut dapat kembali dirasakan oleh siswa SDN Inpres Sawara Jaya.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







