BBKSDA : PON XX Ancaman Serius Bagi Burung Cenderawasih

Lindungan Cenderawasih Dengan Gunakan Mahkota Imitasi

MEPAGO.CO. JAYAPURA – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Edward  Sembiring, S.Hut., M.Si. meminta dukungan Dewan Perwakilan Rakyat Republic Indonesia (DPR-R) dalam perlindungan cenderawasih untuk jenis cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) dan cenderawasih kuning besar (Paradisaea apoda) yang melekat dalam tatanan adat sebagian besar suku di Papua.

Langkah kongkrit perlindungannya melalui penggunaan mahkota cenderawasih imitasi sebagai pengganti yang asli. Permohonan dukungan disampaikan Kepala BBKSDA saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja Komisi IV DPR RI  bersama para Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Taman Nasional,yang dihadiri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi di Jakarta,Kamis 16 September 2021.

Edward mengatakan, dalam ajang PON XX yang akan digelar di Papua pada tahun 2021 dapat menjadi ancaman serius bagi penggunaan mahkota cenderawasih asli. Salah satu langkah tepat mencegah tindak ilegal terhadap cenderawasih adalah dengan memproduksi mahkota cenderawasih imitasi.

Hal ini telah dirintis oleh Kelompok Desa Binaan Konservasi Kena Nembey di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. “Harapan kami, produksi mahkota cenderawasih imitasi ini bisa menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat setempat. Peluangnya sangat besar untuk dipasarkan saat PON XX, menjadi buah tangan khas Papua. Kami perlu dukungan berbagai pihak dalam perlindungan cenderawasih dengan cara menggunakan mahkota imitasi, bukan yang asli,”ujar Edward.

Sebagai pernyataan dukungan, Dedi Mulyadi berkenan mengenakan mahkota cenderawasih imitasi yang diserahkan langsung oleh Edward Sembiring di sela kegiatan RDPU. “Mari gunakan mahkota cenderawasih imitasi, jangan yang asli,” imbuhnya.

Mahkota cenderawasih imitasi yang dikenakan Dedi selama memimpin kegiatan RDPU merupakan karya Lodiwik Serontouw, ketua kelompok Desa Binaan Konservasi Kena Nembey. “Mari menjaga satwa endemik Papua sebelum menjadi kenangan,”ujarnya. (***)

Editor : Robin Sinambela

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *