Penanaman mangrove secara simbolis menandai dimulainya aksi penanaman 3.000 pohon mangrove di pesisir Sanggei. Langkah nyata Pemerintah Kabupaten Waropen bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga lingkungan dan menghadapi perubahan iklim. (Ft: Tamrin/mepago.co)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 di Kabupaten Waropen ditandai dengan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui penanaman 3.000 pohon mangrove di kawasan pesisir Ausiwirini, Kampung Sanggei, Jumat (5/6/2026).
Kegiatan yang diprakarsai Pemerintah Kabupaten Waropen melalui Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Penanaman mangrove secara simbolis dilakukan oleh Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, didampingi Wakil Bupati Waropen, Kapolres Waropen AKBP Iip Syarif Hidayat, S.H., Perwira Penghubung Kodim 1709/Yawa Mayor Inf. Marsamuel Makanua, Kepala KPHP Unit XVII Waropen, Asisten I Setda Waropen, Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kabupaten Waropen, serta Kepala Suku Sanggei.
Melalui penanaman 3.000 pohon mangrove tersebut, Pemerintah Kabupaten Waropen berharap dapat memperkuat perlindungan kawasan pesisir dari abrasi, menjaga habitat berbagai biota laut, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Kegiatan ini juga menjadi implementasi tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, yakni “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, yang mengajak seluruh pihak mengambil langkah nyata dalam menjaga bumi dan mengurangi dampak perubahan iklim global.
Dalam sambutannya, Bupati Fransiscus Xaverius Mote menegaskan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan yang bersifat seremonial, melainkan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata menjaga lingkungan.
“Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan pengingat bagi kita semua bahwa keberlangsungan kehidupan manusia sangat bergantung pada kualitas lingkungan yang kita jaga hari ini. Lingkungan yang sehat akan melahirkan masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera, sedangkan lingkungan yang rusak akan membawa berbagai tantangan yang mengancam kehidupan generasi mendatang,” ujar Mote.
Menurutnya, tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” mengandung pesan bahwa tantangan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan hanya melalui diskusi dan perencanaan semata, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kita dituntut untuk mengambil langkah konkret dalam menjaga lingkungan. Pelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Mari kita jaga pesisir, sungai, dan hutan yang menjadi kekayaan Waropen demi masa depan anak cucu kita,” tegasnya.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







