Kabut Asap, KPHP Waropen Perketat Pengawasan Hutan

Daniello Wonatorey, S.Hut. (Ft: Dok/mepago.co)

WAROPEN | MEPAGO.CO – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Waropen dalam beberapa waktu terakhir diduga merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah kabupaten yang berbatasan atau berdekatan dengan Waropen.

Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca panas dan kering yang terjadi saat ini. Situasi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran, khususnya di kawasan hutan dan lahan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Kepala Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit XVII Waropen, Daniello Wonatorey, S.Hut., mengatakan kabut asap yang dirasakan masyarakat Waropen diduga tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Waropen.

“Dengan kondisi cuaca panas ekstrem saat ini, kami meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada kawasan yang menjadi wilayah pengelolaan KPHP Unit XVII Waropen,” ujar Daniello kepada media ini melalui pesan WhatsApp, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, sebagai pengelola kawasan hutan di wilayah Waropen, KPHP Unit XVII telah melakukan sejumlah langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya Karhutla. Salah satunya dengan meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap kawasan hutan yang berpotensi mengalami kebakaran.

Pemantauan tersebut dilakukan sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan munculnya titik api maupun aktivitas masyarakat yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran.

Selain meningkatkan pengawasan, KPHP Unit XVII Waropen juga terus memberikan imbauan kepada masyarakat, terutama warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan hutan, agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan saat membuka lahan pertanian maupun perkebunan.

“Kami tidak henti-hentinya menyampaikan imbauan kepada seluruh masyarakat, terutama yang berada di sekitar kawasan hutan, agar tidak melakukan pembakaran ketika membuka lahan kebun. Jangan sampai aktivitas pembukaan lahan justru menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.

Daniello menegaskan, pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kebakaran dengan menghindari aktivitas pembakaran yang berpotensi menyebabkan api merambat dan sulit dikendalikan, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan kering.

Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat serta berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan.

“Kami berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga kawasan hutan dan tidak melakukan pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Pencegahan jauh lebih baik daripada kita harus menghadapi dampak Karhutla yang tentunya akan merugikan kita semua,” pungkasnya.

Editor: Tamrin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *