Bupati Waropen, Fransiscus Xaverius Mote, memegang dan menabuh tifa sebagai tanda resmi dibukanya Muscab II Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Waropen. (Ft: Tamrin/mepago.co)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si menegaskan bahwa bidan merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, mulai dari ruang bersalin sederhana di kampung hingga fasilitas kesehatan di tingkat distrik.
Penegasan itu disampaikannya saat membuka Musyawarah Cabang (Muscab) II Periode 2023–2028 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Waropen di Aula Hotel Elfanso Widuri, Rabu (4/3/2026).
“Di ruang bersalin yang sederhana, di puskesmas, hingga di kampung yang jauh dari pusat pemerintahan, bidan hadir membawa harapan dan keselamatan,” tegas Bupati.
Foto bawah: Jajaran anggota IBI Kabupaten Waropen yang hadir dalam Muscab II, menunjukkan semangat kebersamaan. (Ft: Tamrin)
Pembukaan Muscab ditandai dengan penabuhan tifa oleh Bupati yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan, Ketua TP PKK, Ketua GOW, Ketua Dharma Wanita, Kepala Distrik Urei Faisei, serta perwakilan Persit.
Kegiatan ini mengusung tema “Satukan Langkah dalam Transformasi Kesehatan untuk Penguatan Pelayanan Kebidanan Berkesinambungan Berbasis Bukti.”
Dalam sambutannya, Bupati Mote menyatakan komitmennya untuk terus mendorong pemerataan tenaga kesehatan hingga ke seluruh distrik di Kabupaten Waropen. Menurutnya, pelayanan kesehatan harus benar-benar dirasakan merata oleh seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.
“Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat penyebaran tenaga kesehatan sampai ke distrik dan kampung, agar pelayanan kesehatan semakin dekat dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat pengabdian bidan sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Waropen, yakni Ndi Sowosio Ndi Korako dan Kanibararuko, yang mengajarkan nilai persatuan, kebersamaan, keteguhan, dan tanggung jawab bersama dalam membangun daerah.
Dalam konteks pelayanan kebidanan, nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian bukan sekadar menjalankan tugas profesi, tetapi juga tentang keberanian, komitmen, dan kesetiaan untuk tetap hadir melayani masyarakat di mana pun dibutuhkan.
Bupati juga merefleksikan bahwa tugas bidan adalah panggilan mulia, terutama saat mendampingi seorang ibu dalam proses persalinan yang penuh risiko dan harapan. “Bidan adalah penolong kehidupan. Mereka berdiri di antara rasa cemas dan harapan sebuah keluarga.
Peran ini sangat mulia dan harus kita hormati serta dukung bersama,” tutupnya.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela
