Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Waropen, dr. Jenggo Suwarko (tengah), berfoto bersama para peserta usai penutupan Pertemuan Koordinasi Implementasi Pelayanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta Kesehatan Reproduksi. (Ft: Tamrin/mepago.co(
WAROPEN | MEPAGO.CO – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Waropen, dr. Jenggo Suwarko, menegaskan bahwa penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah utama dalam meningkatkan layanan gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta kesehatan reproduksi sebagai upaya menekan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan prevalensi stunting di Kabupaten Waropen.
Hal itu disampaikan usai memimpin Pertemuan Koordinasi Implementasi Pelayanan Gizi, KIA, dan Kesehatan Reproduksi yang melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah distrik, pemerintah kampung, organisasi profesi, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi perempuan.
Menurut dr. Jenggo, kegiatan koordinasi tersebut bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi langkah konkret untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
“Langkah konkret yang kami lakukan salah satunya melalui pertemuan koordinasi seperti hari ini. Kami berharap kerja sama lintas sektor dan lintas program semakin erat sehingga seluruh pihak dapat bergandengan tangan dan bersinergi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Generasi Emas 2045,” ujarnya.
la menjelaskan, dalam kegiatan tersebut seluruh peserta juga telah menandatangani kesepakatan bersama sebagai bentuk komitmen mendukung percepatan penurunan stunting, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan layanan reproduksi di Kabupaten Waropen.
Kesepakatan itu melibatkan Pemerintah Kabupaten Waropen, OPD terkait, pemerintah distrik dan kampung, Gabungan Organisasi Wanita, organisasi profesi kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya.
Terkait kondisi kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Waropen, dr. Jenggo menyampaikan bahwa berdasarkan data Triwulan I Tahun 2026, angka kematian ibu (AKI) tercatat nihil atau tidak ada kasus. Sementara itu, angka kematian bayi (AKB) tercatat sebanyak dua kasus, sedangkan prevalensi stunting berada pada angka 21 persen dengan jumlah 139 balita.
Meski capaian tersebut menunjukkan perkembangan positif, Dinas Kesehatan tidak ingin berpuas diri. Berbagai program promotif, preventif, dan kolaborasi lintas sektor akan terus diperkuat agar angka kematian ibu dan bayi tetap dapat ditekan serta prevalensi stunting terus menurun.
“Harapan kami, melalui sinergi semua pihak, target-target pembangunan kesehatan dapat tercapai. Kami ingin memastikan setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan yang baik, setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal, dan setiap anak tumbuh sehat sehingga mampu menjadi sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045,” tutup dr. Jenggo.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







