Pdt. Henika saat membaptis Dimitri Dio Sormin, putra dari keluarga D. Sormin/br. Sidabutar, dalam rangkaian ibadah Minggu pagi dan baptisan anak di Jemaat GKI Imanuel Serui Kota. (Ft: J. Damanik)
SERUI | MEPAGO.CO – Ibadah Minggu pertama bulan Oktober 2026 di Jemaat GKI Imanuel Serui Kota berlangsung pada Minggu pagi pukul 09.00 WIT. Ibadah dipimpin Ketua Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GKI Imanuel Serui Kota, Pdt. Henika B. Sada, S.Si, dan dirangkaikan dengan pelayanan baptisan seorang anak dari keluarga Sormin.
Dalam rangkaian ibadah tersebut, suasana persekutuan jemaat turut diwarnai dengan penampilan paduan suara yang membawakan lagu “Dalam Perjalanan Indah”. Pujian tersebut menjadi bagian dari pelayanan musik dan puji-pujian yang mengiringi jemaat dalam menghayati perjalanan iman serta penyertaan Tuhan dalam kehidupan.
Khotbah dalam ibadah tersebut disampaikan Pdt. Henika B. Sada dengan berpedoman pada pembacaan Alkitab Yesaya 2:1-5, yang mengangkat pesan tentang “Sion Kota Damai.”
Mengawali khotbahnya, Henika mengatakan bahwa ibadah Minggu pertama bulan Oktober menjadi momentum bagi jemaat untuk kembali merenungkan makna damai sejahtera yang bersumber dari Allah.
Menurutnya, setiap orang menginginkan kehidupan yang aman, tenang dan sejahtera. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan, kecemasan dan berbagai persoalan sering kali menjadi penghalang bagi manusia untuk merasakan kedamaian.
“Kita semua ingin hidup aman, tenang dan sejahtera. Tetapi justru kita menemukan perbedaan, bahkan ada kecemasan yang mengganggu hati kita sehingga damai itu sulit kita dapati,” katanya.
Henika menjelaskan, melalui Yesaya 2:1-5, Sion digambarkan sebagai tempat kehadiran Allah sekaligus lambang pemerintahan Allah. Karena itu, damai sejahtera tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan maupun kekuasaan, melainkan ketika Allah menjadi pusat kehidupan manusia.
“Di mana Allah ada, di situ ada pusat damai. Damai dari Sion adalah shalom, yang berarti keseluruhan hidup yang utuh dan kepenuhan damai sejahtera yang datang dari Allah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Henika menguraikan Yesaya 2:2-3 yang menggambarkan bangsa-bangsa datang ke Sion untuk belajar dan mendengarkan firman Tuhan. Menurutnya, gambaran tersebut menunjukkan bahwa sumber kehidupan dan damai terbuka bagi semua orang tanpa adanya pembatasan.
Sementara pada Yesaya 2:4, digambarkan perubahan dari kehidupan yang penuh konflik menuju kehidupan yang menghasilkan kedamaian. Senjata perang tidak lagi digunakan untuk saling menyakiti, tetapi diubah menjadi alat yang menghasilkan kehidupan.
Henika mengatakan, pesan tersebut mengingatkan jemaat bahwa kehidupan bersama Tuhan harus membawa perubahan hati dan cara hidup.
“Di Sion tidak ada peperangan dan permusuhan, melainkan pelayanan untuk mengubah hati kita, mengubah cara hidup kita. Dari yang mematikan menjadi sesuatu yang menghasilkan kehidupan,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan dan terus berjalan bersama-Nya guna memperoleh kehidupan yang bahagia dan penuh damai sejahtera.
Menurut Henika, Sion yang sejati adalah Kristus dan jemaat-Nya. Karena itu, jemaat dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai damai di tengah keluarga, lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.
“Mari menjadi pendamai, bukan menanam kebencian dan membalas kejahatan. Mari ubah semuanya untuk melindungi yang lemah, bukan untuk menindas. Semuanya itu untuk menjadi alat pelayanan yang damai,” ajaknya.
Ibadah Minggu tersebut menjadi momentum bagi jemaat GKI Imanuel Serui Kota untuk kembali menghayati panggilan sebagai umat Tuhan yang menghadirkan kedamaian, kasih dan kehidupan di tengah berbagai perbedaan.
Selain pemberitaan firman Tuhan dan puji-pujian melalui paduan suara, ibadah juga dirangkaikan dengan pelayanan baptisan seorang anak dari keluarga Sormin, sebagai bagian dari kehidupan persekutuan dan pelayanan jemaat.
Editor: Tamrin Sinambela







