Inilah Sosok Samuel Sampe, Nakhoda Sabuk Nusantara 81

Salam Laut oleh tiga perwira KM Sabuk Nusantara 81: Samuel Sampe, Nakhoda, di tengah; Priya Prayoga, Chief Engineer, di kiri; dan Semuel Rende, Chief Officer, di kanan. Mereka menjadi bagian penting dalam memastikan pelayaran dan operasional kapal berjalan aman dan lancar. (Ft: Tamrin/mepago.co)

WAROPEN | MEPAGO.CO – Laut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Samuel Sampe. Puluhan tahun waktunya dihabiskan di atas kapal, mengarungi lautan Indonesia hingga berbagai negara, dengan satu tanggung jawab yang selalu dipegang teguh: membawa kapal, muatan, dan seluruh penumpang tiba di tujuan dengan selamat.

Saat berbincang dengan media ini di anjungan kapal, Jumat (4/9/2026), pria kelahiran Tanah Toraja, 1965, itu bercerita tentang perjalanan panjangnya sebagai seorang pelaut. Samuel yang dikenal sebagai Master Marine (ANT-I) kini dipercaya menjadi nakhoda Kapal Perintis Sabuk Nusantara 81.

Di balik seragam dan tanggung jawabnya sebagai seorang nakhoda, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun dari pengalaman, disiplin, pengorbanan, serta kecintaan terhadap dunia pelayaran.

Perjalanan Samuel Sampe di dunia maritim dimulai pada Desember 1989. Saat itu, ia bergabung dengan perusahaan kapal tanker asal Singapura. Setahun kemudian, pada 1990, kepercayaan besar diberikan kepadanya untuk menjadi nakhoda kapal tanker.

Kariernya terus berkembang. Pada 2004, Samuel bergabung dengan perusahaan pelayaran asal Yunani dan kembali dipercaya memimpin kapal tanker hingga 2010.

Setelah lebih dari dua dekade berlayar di kapal-kapal tanker, Samuel kembali menjalani profesinya sebagai nakhoda kapal tanker hingga 2020. Pengalaman panjang tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia memilih melanjutkan pengabdian melalui kapal perintis di Indonesia.

Tahun 2021 menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya. Samuel dipercaya menjadi nakhoda Sabuk Nusantara 69. Pada periode 2021 hingga 2023, ia kemudian bertugas di Sabuk Nusantara 108.

Selanjutnya, Samuel dipercaya memimpin Sabuk Nusantara 48 hingga 2025. Memasuki 2026, perjalanan panjang tersebut membawanya bertugas sebagai nakhoda Sabuk Nusantara 81.

Bagi ayah empat anak ini, berpindah dari kapal tanker internasional ke kapal perintis bukan sekadar perubahan tempat kerja. Ada makna pengabdian yang ia rasakan ketika menjalankan tugas di perairan Indonesia, khususnya dalam melayani masyarakat di wilayah yang sangat bergantung pada transportasi laut.

Puluhan Tahun Jauh dari Keluarga

Selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan pelayaran asing, Samuel merasakan kerasnya kehidupan seorang pelaut. Berbulan-bulan, bahkan hingga lebih dari setahun, harus meninggalkan keluarga menjadi bagian dari perjalanan profesinya.

Ia mengingat, dalam dunia pelayaran, seorang pelaut bisa berada di atas kapal selama enam bulan, 12 bulan, bahkan 18 bulan sebelum kembali bertemu keluarga.

Namun, semua itu dijalani dengan keteguhan hati. Baginya, menjadi pelaut bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab yang harus dijalankan dengan disiplin dan profesionalisme.

Pengalaman berlayar di luar negeri juga memberinya banyak pelajaran. Ia merasakan bagaimana bekerja dengan lingkungan dan budaya perusahaan yang berbeda, sekaligus belajar bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab utama seorang nakhoda.

Di balik panjangnya masa pelayaran itu, ada keluarga yang selalu menjadi tempat untuk kembali.

Anak-Anak Mengikuti Jejak Sang Ayah

Samuel Sampe bukan satu-satunya pelaut dalam keluarganya. Dari empat anak yang dimilikinya bersama sang istri, dua di antaranya memilih mengikuti jejak sang ayah di dunia maritim.

Anak pertama bekerja di perusahaan tanker chemical di Singapura. Anak kedua menempuh pendidikan hingga meraih gelar Ir., ST, MT.

Sementara anak ketiganya bekerja di perusahaan LNG asal Norwegia.

Hanya anak keempat, satu-satunya putri dalam keluarga, yang memilih jalan berbeda. Ia menempuh pendidikan kedokteran dan kini sedang menjalani masa koas di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Bagi Samuel, keberhasilan anak-anaknya merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia mengaku tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk mengikuti profesinya. Namun, pengalaman dan nilai-nilai yang ditanamkan selama bertahun-tahun ternyata membuat dua putranya memilih dunia yang sama dengan sang ayah.

Kini, setelah puluhan tahun mengarungi lautan, Samuel Sampe masih berdiri di anjungan kapal sebagai seorang nakhoda.

Usianya terus bertambah, tetapi laut seakan belum selesai memanggilnya. Dari kapal tanker internasional hingga kapal perintis yang melayani masyarakat Indonesia, perjalanan Samuel menjadi gambaran tentang profesi yang tidak hanya membutuhkan keahlian, tetapi juga ketekunan, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan kepada keluarga.

Di tengah luasnya laut yang menjadi tempatnya bekerja, ada satu hal yang selalu ia bawa dalam setiap pelayaran: harapan agar setiap perjalanan berakhir dengan selamat dan setiap keluarga yang menunggu di daratan dapat kembali bertemu dengan orang yang mereka cintai.

Penulis: Tamrin Sinambela

Editor: Tamrin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *