Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kembali Pasar Rakyat Urei Faisei (Urfas), Rabu (19/8/2026). Tentu momentum ini menjadi awal kebangkitan kembali aktivitas perdagangan dan perekonomian masyarakat setelah pasar sebelumnya terbakar. (HumPro Setda Waropen)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Harapan masyarakat Distrik Urei Faisei untuk kembali memiliki pasar yang layak mulai terwujud. Setelah sekitar satu tahun enam bulan pascakebakaran, pembangunan kembali Pasar Rakyat Urei Faisei (Urfas) resmi dimulai melalui peletakan batu pertama di lokasi bekas pasar, Rabu (19/8/2026).
Peletakan batu pertama langsung dihadiri Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., Wakil Bupati Yowel Boari, Ketua DPRK Waropen Yeneke S.K. Dippan, jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, dewan adat, serta keluarga Wonatorei-Imbiri selaku pemilik hak ulayat yang telah menyerahkan tanah untuk pembangunan pasar.
Kehadiran unsur pemerintah, adat dan agama menjadi gambaran kuatnya kebersamaan dalam mendorong pembangunan fasilitas publik sekaligus memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat Urei Faisei.

Pembangunan Pasar Rakyat Urfas menggunakan anggaran sebesar Rp2,79 miliar yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun Anggaran 2026. Bangunan pasar direncanakan berukuran 17 x 36 meter atau sekitar 612 meter persegi, dengan pelaksana pekerjaan CV Banawa Indah.
Selain pekerjaan fisik, proyek tersebut didukung anggaran perencanaan sebesar Rp120 juta dan pengawasan Rp90 juta. Pembangunan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar tiga bulan.
Sebelum pembangunan dimulai, Pemerintah Kabupaten Waropen juga telah menyelesaikan pembayaran lahan. Dengan demikian, tanah lokasi pembangunan pasar kini secara resmi menjadi aset Pemerintah Kabupaten Waropen. Penyelesaian persoalan lahan tersebut memberikan kepastian hukum sekaligus menjadi dasar keberlanjutan pemanfaatan pasar untuk kepentingan masyarakat.
Bupati Waropen Fransiscus Xaverius Mote menyampaikan rasa syukur atas dimulainya pembangunan kembali Pasar Urfas. Ia menilai keberadaan pasar merupakan kebutuhan masyarakat yang tidak lagi dapat ditunda.
“Saya sangat senang karena dari provinsi, BP AM Sinode GKI, Dewan Adat dan pemerintah hadir bersama untuk meletakkan batu pertama. Kolaborasi pemerintah, adat dan agama bertemu di pasar ini. Ini adalah kebutuhan masyarakat yang sudah tidak bisa ditunda,” ujar Bupati.
Mote juga menyampaikan penghargaan kepada masyarakat adat, khususnya keluarga pemilik hak ulayat, yang telah menyerahkan tanah untuk pembangunan fasilitas publik.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya membutuhkan dukungan pemerintah, tetapi juga kebersamaan, saling menghormati dan keikhlasan seluruh pihak. Ia berharap dukungan pemerintah kampung serta keberadaan pos polisi di sekitar kawasan pasar turut menunjang keamanan aktivitas masyarakat.
“Ini menjadi awal bagi masyarakat untuk kembali berjualan di tempat yang lebih representatif. Kita berharap pasar ini dapat menampung para pedagang yang ada, walaupun lahannya tidak terlalu luas. Karena itu dinas terkait harus mampu mengatur pemanfaatannya dengan baik dan menjaga kebersamaan di antara para pedagang,” tegasnya.
Pembangunan Pasar Rakyat Urfas berada di bawah kendali Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, UMKM dan Transmigrasi Kabupaten Waropen. Pemerintah daerah berharap pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target sehingga masyarakat segera memiliki pasar yang aman, layak dan representatif.
Lebih dari sekadar tempat transaksi jual beli, Pasar Urfas diharapkan kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi dan ruang perjumpaan masyarakat. Dimulainya pembangunan menjadi tanda bangkitnya kembali denyut perekonomian Urei Faisei setelah aktivitas pasar terhenti akibat kebakaran. (HumPro Setda Waropen)
Editor: Tamrin Sinambela







