Para peserta bersama tamu undangan mengacungkan lima jari sebagai simbol Stop Kekerasan saat berfoto bersama usai pembukaan kegiatan. (Ft: Tamrin/mepago.co)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Waropen bersama Gerakan Pemuda Waropen kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu kemanusiaan. Melalui seminar publik bertema “Berani Bicara, Berani Menjaga: Pemuda Waropen Bersatu Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan – Ndi Sowosio Ndi Korako, Kita Bersatu Kita Kuat,” ratusan pemuda berkumpul di Aula Kantor Klasis Waropen untuk memperkuat komitmen bersama menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Penguatan dan Pengembangan Lembaga Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak, serta diinisiasi oleh Forum Pelajar Pemuda Masirey Waropen bekerja sama dengan DP3AKB Kabupaten Waropen. Seminar dibuka secara resmi oleh Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, yang diwakili Asisten I Setda, Jaelani, AP, M.Si.
Acara turut dihadiri Ketua DPRK Waropen Yennike Dippan, S.Sos, sejumlah anggota DPRK, para Asisten Setda, pimpinan OPD, Kepala DP3AKB Selviana Imbiri, SKM, MPH, Kasat Intel, Kasat Reskrim Polres Waropen, serta sekitar 150 pemuda-pemudi dari kalangan mahasiswa hingga pelajar SMA sederajat.
Seminar ini juga menjadi rangkaian penutupan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang berlangsung sejak 25 November hingga 10 Desember, bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Tahun ini, Komnas Perempuan mengusung tema nasional “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman.”
Dalam sambutannya, Bupati Mote menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah persoalan serius yang berdampak pada individu, keluarga, dan stabilitas masyarakat. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen:
1. Pemerintah & Penegak Hukum
- Menjamin regulasi berjalan efektif
- Memperkuat implementasi hukum
- Menyediakan layanan perlindungan yang mudah diakses
2. Komunitas, LSM, Organisasi Perempuan & Media
- Mengangkat dan menyuarakan fakta
- Mendokumentasikan kasus kekerasan
- Memberikan dukungan moral, psikis, dan sosial
- Mengadvokasi perubahan budaya
3. Masyarakat & Individu
- Berani menolak budaya diam
- Menciptakan ruang aman di rumah, sekolah, gereja, kampung, hingga ruang publik
Bupati menegaskan bahwa kekerasan bukan budaya masyarakat Waropen, yang selama ini menjunjung tinggi nilai perdamaian dan penghormatan terhadap perempuan. Ia mengajak pemuda menjadi garda terdepan perubahan.
“Hentikan kekerasan dimulai dari diri sendiri. Perempuan berhak hidup bebas dari kekerasan. Hormati perempuan, hargai martabatnya. Kita semua dilahirkan dari perempuan kuat dan hebat,” tegasnya.
Seminar berlangsung melalui penyampaian materi, diskusi publik, dan penguatan pemahaman pemuda mengenai pentingnya perlindungan perempuan dan anak.
Sebagai simbol dimulainya gerakan bersama, dilakukan penabuhan tifa yang dipimpin Asisten I Setda Jaelani, AP, M.Si, didampingi Asisten III Setda, Ketua dan anggota DPRK, Kasat Intel, Kasat Reskrim, Kepala DP3AKB, serta pimpinan OPD.
Mewakili Bupati, Asisten I menutup kegiatan dengan memberikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta. Ia menegaskan bahwa komitmen bersama merupakan fondasi penting untuk membangun Waropen yang aman, setara, dan bebas dari kekerasan.
Pembicara masing-masing Jake Merril Ibo, Yennike Dippan, S.Sos dan Kadis DP3AKB Selviana, SKM, MPH.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela
