Gembala Jemaat, Pdt. Aryanto Budiono, M.Th, memberkati tiga anak yang diserahkan orang tua secara bergantian dengan penumpangan tangan sebagai tanda penyerahan kepada Tuhan. (Ft: Tamrin/mepago.co)
YAPEN | MEPAGO.CO – Ibadah Minggu di Jemaat Gereja Baptis Anugerah Indonesia “Percaya Yesus” berlangsung khidmat pada Minggu, 22 Maret 2026 pukul 18.30 WIT, dengan dihadiri sekitar 150 jemaat. Dalam ibadah tersebut, selain pujian dan penyembahan, juga dilaksanakan penyerahan tiga anak kepada Tuhan.
Ibadah Minggu yang digelar di Jemaat Gereja Baptis Anugerah Indonesia “Percaya Yesus” dipimpin oleh pembawa firman Tuhan, Nn. Caludya Paru, S.Th., M.Th Sementara prosesi penyerahan anak dipimpin oleh Gembala Jemaat, Pdt. Aryanto Budiono, M.Th.
Adapun tiga anak yang diserahkan kepada Tuhan yakni: Gwenara Davina Sipayung, putri dari Roby F. Sipayung dan Edith Abigail N. Malonda, Ciella Seraphina Siagian, putri dari Caisar Leonardo Siagian dan Stephanie Caroline dan Gerald Elvano Tansil, putra dari Rico Tansil dan Novita Waas.
Dalam khotbahnya, Nn. Caludya Paru mengangkat firman Tuhan dari Injil Matius 19:27–30 dengan tema “Upah Mengikut Yesus”.
Adapun nats firman Tuhan berbunyi:
“Lalu Petrus berkata kepada Yesus: ‘Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?’
Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.
Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bapanya, ibunya, anak-anaknya atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.
Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.’”
Dalam penjelasannya, Nn. Caludya menyampaikan bahwa secara umum, upah adalah sesuatu yang diberikan sebagai balasan atas pekerjaan atau usaha yang telah dilakukan.
Namun berdasarkan Alkitab, “upah” memiliki makna yang lebih luas, yaitu sebagai kompensasi atau konsekuensi yang diterima seseorang atas tindakan, pekerjaan, maupun ketaatannya kepada Tuhan.
Upah ini tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga rohani, yang mencakup berkat Allah maupun konsekuensi atas dosa.
Ia menjelaskan bahwa dalam Alkitab terdapat berbagai bentuk upah, di antaranya: Upah sebagai konsekuensi, di mana “upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal” (Roma 6:23).
Upah dari Bapa, yang tidak selalu berupa materi, melainkan penghargaan surgawi atas kesetiaan.
Upah sebagai kasih karunia, bukan semata-mata balas jasa, melainkan wujud anugerah Tuhan. Upah di dunia, berupa hasil atau imbalan atas pekerjaan.
Lebih lanjut, ia menguraikan alasan Petrus bertanya kepada Yesus, yang mencerminkan sifat manusia pada umumnya, yaitu ingin menghitung untung-rugi, membutuhkan kepastian, serta mengharapkan imbalan.
Menjawab hal itu, Yesus memberikan beberapa jaminan bagi mereka yang setia mengikut-Nya, antara lain:
Jaminan otoritas, yakni akan duduk bersama Yesus dalam kemuliaan (ayat 28).
Jaminan berkat, baik secara rohani maupun dalam komunitas iman (ayat 29).
Jaminan hidup kekal, sebagai upah tertinggi bagi orang percaya (ayat 29).
Nn. Caludya menegaskan bahwa keselamatan dan hidup kekal merupakan puncak dari seluruh upah yang diterima oleh orang percaya atas kesetiaan mereka dalam mengikut Yesus.
Ia juga mengingatkan jemaat bahwa mengikut Kristus menuntut pengorbanan, seperti melepaskan kenyamanan dan kepentingan pribadi. Namun, apa yang dilepaskan tidak sebanding dengan berkat yang akan diterima.
Selain itu, jemaat diajak untuk tetap setia dalam perkara kecil, rendah hati dalam pelayanan, serta tidak membandingkan diri dengan orang lain, karena standar Kerajaan Allah berbeda dengan standar dunia.
“Yang terakhir akan menjadi yang terdahulu,” menjadi penutup pengajaran, sebagai pengingat agar setiap orang percaya tetap hidup dalam kerendahan hati dan keyakinan bahwa Tuhan memelihara serta mencukupi kebutuhan umat-Nya.
Ibadah berlangsung penuh sukacita dan menjadi momen penguatan iman bagi seluruh jemaat yang hadir. Dan diakhir ibadah makan agape.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela
