Stunting Waropen Turun, Pemkab Perkuat Intervensi Lintas Sektor

Plt. Sekda Waropen Bob Woriori didampingi Kepala Bappeda, Kepala DP3AP2KB, Asisten II Setda dan Kapolsek Waropen Bawah saat menabuh tifa sebagai tanda dibukanya kegiatan percepatan pencegahan dan penurunan stunting Kabupaten Waropen. (Ft: Tamrin/mepago.co)

WAROPEN | MEPAGO CO – Angka stunting di Kabupaten Waropen turun dari 23,5 persen pada 2025 menjadi 22,28 persen pada semester pertama 2026. Meski mengalami penurunan, Pemerintah Kabupaten Waropen menilai upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting masih perlu diperkuat melalui intervensi dan sinergi lintas sektor.

Hal tersebut disampaikan Plt. Sekretaris Daerah (Sekda) Waropen, Bob Woriori, S.STP., M.Si., saat membacakan sambutan Bupati Waropen dalam kegiatan penguatan pelaksanaan, monitoring dan penilaian aksi konvergensi percepatan pencegahan dan penurunan stunting Kabupaten Waropen tahun 2026 di Aula Hotel Elfanso Widuri, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Waropen tersebut dibuka Bob Woriori, ditandai dengan penabuhan tifa.

Dalam sambutan Bupati yang dibacakannya, Bob menyampaikan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan persoalan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat berdampak terhadap kesehatan, kecerdasan dan daya saing generasi muda.

Para peserta mengikuti pembukaan kegiatan penguatan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting Kabupaten Waropen tahun 2026. (Ft: Tamrin)

“Masalah stunting bukan sekadar masalah tinggi badan ataupun berat badan anak yang kurang, melainkan ancaman serius terhadap kecerdasan, kesehatan dan daya saing generasi muda serta masa depan Waropen,” ujarnya.

Menurutnya, Waropen memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari hasil laut hingga hutan mangrove. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan perhatian serius terhadap pemenuhan gizi anak sebagai generasi penerus pembangunan daerah.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, angka stunting di Kabupaten Waropen pada 2025 tercatat sebesar 23,5 persen atau sekitar 998 bayi dan balita yang terindikasi stunting. Sementara pada semester pertama 2026, angkanya turun menjadi 22,28 persen.

“Angka ini menunjukkan adanya penurunan sebesar 1,22 persen,” kata Bob.

Ia menegaskan, percepatan penurunan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab satu organisasi perangkat daerah (OPD), tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah distrik dan pemerintah kampung, kata Bob, diharapkan memastikan pemanfaatan dana kampung dilakukan secara tepat, termasuk untuk mendukung ketahanan pangan dan pemenuhan gizi keluarga.

Sementara kader Posyandu dan penggerak PKK diharapkan terus memberikan edukasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui mengenai pentingnya pemenuhan gizi selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Masyarakat juga didorong memanfaatkan pangan lokal bergizi yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Bob menekankan bahwa intervensi penanganan stunting harus dilakukan secara nyata, terukur dan berkelanjutan melalui kerja sama lintas sektor.

“Kita harus bergerak cepat, bersinergi dan menghilangkan ego sektoral demi menyelamatkan anak-anak Waropen sebagai generasi emas yang akan melanjutkan pembangunan,” katanya.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pimpinan OPD, perwakilan Polres Waropen, Kapolsek Waropen Bawah, Plt. Kepala DP3AP2KB Kabupaten Waropen, Dina A. Samori, SE., MH., bersama jajaran turut dan para tamu undangan.

Narasumber dalam kegiatan antara lain Plt. Sekda Waropen Bob Woriori, Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Waropen.

Penulis: Tamrin Sinambela

Editor: Tamrin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *