Penanaman bibit sagu oleh Yadupa bersama masyarakat adat dan kelompok sagu di Kampung Ariepi dan Sarawandori sebagai langkah nyata menjaga pangan lokal dan kelestarian hutan Papua. (Ft: Iqi)
YAPEN | MEPAGO.CO – Yayasan Anak Dusun Papua (Yadupa) bersama masyarakat adat dan kelompok sagu melakukan penanaman kembali pohon sagu di Kampung Ariepi dan Sarawandori, Kepulauan Yapen, pada 16–17 Maret 2026 sebagai upaya menyelamatkan hutan sagu yang terancam punah.
Program pendampingan yang dilakukan Yadupa ini telah dimulai sejak Oktober 2025 dengan melibatkan pemerintah kampung, masyarakat adat, serta kelompok sagu di dua kampung tersebut.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya sagu sebagai sumber pangan lokal, ancaman kepunahan, serta langkah pelestarian.
Dalam tahap ini juga dibentuk kelompok dampingan sagu sebagai penggerak di tingkat kampung.
Pada November 2025, tim melakukan survei lapangan dengan mengambil titik koordinat dan memetakan kawasan hutan sagu yang terancam.
Selanjutnya pada Desember 2025, dilakukan verifikasi dan validasi data bersama masyarakat adat dan pemerintah kampung.
Hasil pendataan menunjukkan luas hutan sagu di Kampung Ariepi mencapai 469,81 hektare, sedangkan di Kampung Sarawandori sekitar 50,97 hektare.
Namun, sebagian kawasan telah beralih fungsi untuk pembangunan dan kepentingan pribadi. Selain itu, ancaman juga datang dari penebangan liar serta pola pengolahan sagu yang belum berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Yadupa bersama kelompok sagu melakukan pembibitan dengan metode perendaman alami selama tiga bulan. Hasilnya, sebanyak 30 pohon sagu ditanam di Kampung Ariepi pada 16 Maret 2026 dan 31 pohon di Kampung Sarawandori pada 17 Maret 2026.
Ketua Cabang Yapen Yadupa, Jekson M. Yapanani, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen menjaga manusia, tanah, dan sumber daya alam Papua sesuai hasil Konferensi Masyarakat Adat Papua IV tahun 2021.
“Jika masyarakat adat tidak segera bertindak, hutan sagu akan hilang. Saat ini masih ada kesempatan untuk memulai, jangan ditunda,” tegasnya.
Ketua Kelompok Sagu Ariepi, Yusuf Kapanai, mengungkapkan hutan sagu di wilayahnya mulai terancam akibat pembangunan, sehingga masyarakat perlu kembali menanam di lahan yang masih tersedia.
Sekretaris Kampung Ariepi, Jhon Sembai, menyatakan dukungan pemerintah kampung terhadap program tersebut, karena dinilai penting dalam menjaga ketahanan pangan lokal.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Sagu Sarawandori, Gerald Wayeni, yang menilai kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga sagu dari kerusakan.
Sementara itu, Sekretaris Kampung Sarawandori, Marthen Sambari, berharap upaya pelestarian ini terus berlanjut agar masyarakat tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga menjaga keberadaan hutan sagu.
Melalui program ini, pelestarian sagu sebagai pangan lokal khas Papua diharapkan tetap terjaga dan menjadi warisan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Ignatius Aninam)
