10 Anak Waropen Raih Sekolah Gratis di Jakarta

Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., menghadiri kegiatan pendidikan dan pameran inovasi pelajar di Sekolah Genius Jakarta. Kehadiran Bupati menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Waropen dalam membangun kerja sama pendidikan guna membuka akses belajar yang lebih luas bagi generasi muda Waropen. Melalui kerja sama ini, sebanyak 10 putra-putri asli Waropen berkesempatan menempuh pendidikan gratis hingga jenjang SMA di Jakarta. (Ft: Dok/HumPro)

JAKARTA | MEPAGO.CO – Kabar baik bagi dunia pendidikan di Kabupaten Waropen. Pemerintah Kabupaten Waropen berhasil membuka akses pendidikan berkualitas bagi putra-putri daerah melalui kerja sama dengan Sekolah Genius Jakarta.

Melalui program tersebut, sebanyak 10 anak asli Waropen akan memperoleh kesempatan menempuh pendidikan secara gratis mulai jenjang SMP hingga SMA.

Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., mengatakan kuota tersebut merupakan hasil komunikasi dan koordinasi yang dibangun Pemerintah Kabupaten Waropen dengan pihak Sekolah Genius Jakarta sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah.

  • “Ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk mempersiapkan generasi muda Waropen yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing melalui akses pendidikan yang lebih baik,” ujar Mote.

Direktur Sekolah Genius Jakarta, Ester K. Wirawan, M.Psi., menjelaskan bahwa pihak sekolah telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Waropen dan akan mengirim tim khusus untuk melakukan seleksi calon peserta didik di daerah tersebut.

Menurutnya, Kabupaten Waropen memperoleh kuota sebanyak 10 siswa yang akan menempuh pendidikan di Sekolah Genius Jakarta dengan pembiayaan penuh dari program yang disediakan sekolah.

“Waropen mendapatkan kuota 10 siswa untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Genius Jakarta,” kata Ester.

Ia mengungkapkan, tim seleksi dijadwalkan tiba di Waropen pada 22 hingga 26 Juli 2026 guna melaksanakan proses penjaringan dan seleksi calon peserta didik.

Ester menegaskan bahwa seleksi tidak semata-mata mengutamakan kemampuan akademik. Sebaliknya, penilaian lebih difokuskan pada aspek psikologis, karakter, motivasi belajar, dan kesiapan siswa untuk mengikuti proses pendidikan.

Tesnya tidak harus pintar atau mahir matematika. Yang utama adalah tes psikologi. Anak-anak cukup datang dalam kondisi sehat, memiliki kemauan belajar, dan siap mengikuti pendidikan,” jelasnya.

Sementara itu, Sekolah Genius Jakarta baru saja menggelar kegiatan bertajuk “Nosse To Ipsu Et Regere: Mengenal Diri, Nyatakan Karya”, yang menampilkan hasil penelitian dan inovasi para pelajar dari berbagai daerah di kawasan Indonesia Timur.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 20 daerah, di antaranya Papua Tengah, Intan Jaya, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Nabire, Mimika, Puncak, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Manokwari Selatan, Boven Digoel, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Teluk Wondama, Kabupaten Sorong, Biak Numfor, Kota Ambon, hingga Kepulauan Tanimbar.
Ester berharap program pendidikan dan pengembangan potensi generasi muda di Indonesia Timur terus berkembang sehingga mampu melahirkan generasi yang inovatif dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Harapan kami, anak-anak Papua dan Indonesia Timur terus memiliki semangat belajar yang tinggi, berani berinovasi, serta tidak takut berkarya. Kami ingin melihat lahirnya generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menilai dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. (HumPro)

Editor: Tamrin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *