Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, menyampaikan ucapan belasungkawa dalam ibadah pelepasan almarhum Pdt. Ghiri Maklon Bisi Wonatorei di Gereja GPdI Lahairoi Mambui, Kamis (23/7/2026). Ft: Tamrin/mepago.co)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Suasana duka menyelimuti Jemaat GPdI Lahairoi Mambui, Distrik Urei Faisei, Kabupaten Waropen, saat ratusan keluarga, jemaat, dan masyarakat mengantar kepergian Pdt. Ghiri Maklon Bisi Wonatorei ke tempat peristirahatan terakhir, Kamis (23/7/2026).
Isak tangis anak-anak, cucu, cicit, serta kerabat mengiringi prosesi pelepasan seorang hamba Tuhan yang telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari enam dekade dalam pelayanan.
Jenazah almarhum diberangkatkan dari rumah duka menuju Gereja GPdI Lahairoi Mambui untuk disemayamkan. Setelah itu, dilaksanakan ibadah pelepasan sebelum jenazah diantar menuju tempat pemakaman.
Suasana haru semakin pecah ketika perwakilan keluarga, Mesakh Wonatorey, membacakan riwayat hidup almarhum. Tangis keluarga tak terbendung saat mengenang perjalanan hidup serta pengabdian panjang almarhum sebagai gembala jemaat, ayah, sekaligus tokoh masyarakat.
Dalam riwayat hidupnya disebutkan, Pdt. Ghiri Maklon Bisi Wonatorei lahir di Sanggei pada 23 Maret 1945, putra kedua dari pasangan almarhum Lodwik Wonatorey dan almarhumah Faransina Mea Imbiri. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan panggilan untuk melayani Tuhan.

Pada 1957, saat berusia 12 tahun, almarhum menempuh pendidikan di Sekolah Alkitab Serui selama empat tahun dan lulus pada 1961. Sekembalinya ke kampung halaman, ia langsung mengabdikan diri sebagai pengerja muda di Jemaat GPdI Mambui.
Pada 18 Agustus 1962, almarhum menikah dengan Dia Aplena Windewani Ayomi Sawaki dalam pemberkatan nikah yang dipimpin Pdt. Lukas Sikowai dan Pdt. Kristian Wenggi. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai 11 orang anak kandung serta mengasuh tiga anak angkat selama menjalankan pelayanan di Mambui. Almarhum juga meninggalkan 50 orang cucu dan 23 orang cicit.
Pengabdian almarhum dalam pelayanan dimulai sejak menjadi pengerja muda pada 1962. Enam tahun kemudian, tepatnya pada 1968, ia dipercaya menggantikan Pdt. Aser Windesi sebagai Gembala Jemaat GPdI Lahairoi Mambui. Jabatan tersebut diembannya dengan penuh kesetiaan hingga akhir hayat, dengan total masa pelayanan sekitar 63 tahun.
Selama melayani, almarhum aktif mengembangkan pelayanan Injil di berbagai wilayah Waropen. Pada periode 1984-1989, ia dipercaya menjabat Bendahara Majelis Wilayah Waropen. Selanjutnya, pada 1985, ia diangkat sebagai Ketua Tim Penginjilan Wilayah dan memimpin berbagai kegiatan penginjilan yang menghasilkan pertobatan banyak jiwa serta pelaksanaan baptisan air bagi jemaat baru.
Kontribusinya juga terlihat dalam pengembangan jemaat GPdI di Waropen. Pada 10 Januari 2008, almarhum melepas Pdm. Frans Wonatorey untuk membentuk jemaat baru yang kemudian berkembang di Ronggaiwa. Setahun kemudian, ia memimpin baptisan pertama bagi Jemaat GPdI Solagracia Ronggaiwa sebagai bagian dari perluasan pelayanan di wilayah tersebut.
Selain dikenal sebagai hamba Tuhan, almarhum juga merupakan tokoh masyarakat. la pernah menjabat Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Kampung Urfas I sebelum dipercaya menjadi Kepala Kampung selama tiga periode, yakni sejak 2003 hingga 2017.
Di mata keluarga, almarhum dikenal sebagai sosok ayah yang sederhana, sabar, penuh kasih, serta selalu memberikan perhatian kepada anak-anak maupun keluarga besarnya di Sanggei, Nubuai, Paradoi, Mambui, hingga Waren.
Memasuki usia senja, kondisi kesehatannya mulai menurun, terlebih setelah kepergian sang istri pada 18 April 2025. Sejak 16 Juli 2026, almarhum tidak lagi mampu makan maupun minum dan hanya bergantung pada cairan infus yang dipasang tenaga medis.
Pada Selasa, 21 Juli 2026, pukul 10.17 WIT, Pdt. Ghiri Maklon Bisi Wonatorei menghembuskan napas terakhir di kediamannya dalam usia 81 tahun.
Dalam ibadah pelepasan, keluarga mengenang pesan Firman Tuhan yang menjadi pegangan hidup almarhum, yakni 2 Timotius 4:7-8: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman…”
Sementara itu, Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, yang turut menghadiri ibadah pelepasan, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas nama Pemerintah Kabupaten Waropen dan seluruh masyarakat.
Menurut Bupati, kepergian Pdt. Ghiri Maklon Bisi Wonatorei merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi gereja dan masyarakat Waropen.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Waropen dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Almarhum telah mengabdikan hidupnya bagi pelayanan Tuhan, membimbing jemaat, membangun masyarakat, serta meninggalkan teladan iman, kesetiaan, dan pengabdian yang patut diteruskan oleh generasi penerus,” ujar Bupati.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







