Tabuhan tifa oleh Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, didampingi para perwakilan denominasi gereja serta Ketua dan Pengurus GKI di Tanah Papua Klasis Waropen, menjadi tanda resmi dilaunchingnya Alkitab Bahasa Waropen. (Ft: Tamrin/mepago co)
WAROPEN | MEPAGO CO – Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, secara resmi melaunching Alkitab Bahasa Waropen berupa terjemahan Kitab Kisah Para Rasul dalam Bahasa Waropen pada Ibadah Syukur dan Launching Alkitab Bahasa Waropen GKI di Tanah Papua Klasis Waropen yang digelar di Gedung Serbaguna Kantor Klasis GKI Waropen, Selasa (28/7/2026).
Peluncuran ditandai dengan penabuhan tifa oleh Bupati Waropen sebagai simbol dimulainya penggunaan Alkitab dalam bahasa ibu masyarakat Waropen. Kegiatan tersebut dihadiri Plt. Sekretaris Daerah, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para kepala distrik, Ketua Klasis GKI Kabupaten Waropen beserta jajaran pengurus Klasis GKI Waropen, tokoh gereja, dan jemaat.
Dalam sambutannya, Bupati Fransiscus Xaverius Mote menyampaikan bahwa peluncuran Alkitab Bahasa Waropen merupakan momentum bersejarah sekaligus ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan panjang penerjemahan firman-Nya ke dalam bahasa yang hidup di tengah masyarakat Waropen.
“Momentum ini menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan. Hari ini menjadi catatan sejarah yang patut kita syukuri bersama,” ujar Bupati.
Menurutnya, kehadiran Alkitab dalam Bahasa Waropen memiliki makna yang sangat mendalam karena firman Tuhan yang disampaikan melalui bahasa ibu akan lebih mudah dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Bupati menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan identitas, sejarah, nilai-nilai budaya, dan cara pandang suatu masyarakat terhadap kehidupan. Karena itu, penerjemahan Alkitab menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian bahasa dan budaya Waropen agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Bahasa Waropen adalah bahasa ibu yang harus terus dijaga. Ini adalah bukti bahwa kita mencintai jati diri dan budaya kita sendiri. Firman Tuhan akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat ketika disampaikan dalam bahasa mereka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, maupun gedung, tetapi juga harus menyentuh pembangunan karakter, moral, dan spiritual masyarakat.
Menurutnya, ketika nilai-nilai keimanan berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal, maka masyarakat sedang membangun Waropen yang kuat dari akar budaya hingga masa depannya.
Bupati juga mengaitkan peluncuran Alkitab tersebut dengan filosofi hidup masyarakat Waropen, “Ndi Sisiwo Ndi Korako” dan “Kaniba Raruko”, yang mengajarkan pentingnya persatuan, kebersamaan, saling menopang, serta saling mengasihi.
“Walaupun kita berbeda-beda, kita dipersatukan dalam kasih. Filosofi hidup masyarakat Waropen sejalan dengan ajaran firman Tuhan untuk saling mengasihi, menghormati, dan hidup dalam damai,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Waropen berkomitmen mendukung berbagai upaya pelestarian bahasa daerah, adat istiadat, dan budaya lokal sebagai warisan leluhur. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui dukungan pemerintah terhadap kegiatan keagamaan.
Dalam kesempatan itu, Bupati mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Waropen mengalokasikan sekitar 10 persen APBD untuk mendukung bidang keagamaan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang berlandaskan iman.
Mengakhiri sambutannya, Bupati menegaskan bahwa segala proses penerjemahan Alkitab hingga dapat diluncurkan merupakan bukti penyertaan Roh Kudus. Ia berharap Alkitab Bahasa Waropen dapat menjadi berkat bagi seluruh masyarakat, memperkuat iman, sekaligus menjaga kelestarian bahasa ibu agar tetap diwariskan kepada generasi mendatang.
“Manusia boleh berakhir, tetapi firman Tuhan harus terus berjalan. Pemerintah Kabupaten Waropen mendukung penuh pelestarian budaya, termasuk melalui penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Waropen,” tutup Bupati.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







