Refleksi dan Merenungi Menuju Pemungutan Suara

Oleh: Tanrin Sinambela

Masa tenang dalam setiap pemilihan umum (pemilu) adalah periode kritis yang seringkali kurang mendapat perhatian yang sepadan dengan pentingnya. Tiga hari menjelang pemungutan suara—11, 12, dan 13 Februari 2024, dalam konteks pemilu kali ini—bukan hanya sekedar jeda dalam hiruk pikuk kampanye, tetapi lebih dari itu, sebuah kesempatan bagi semua pihak untuk menarik nafas, merefleksikan perjalanan kampanye, dan mempersiapkan diri untuk proses demokrasi yang bermartabat.

Bagi calon anggota legislatif, kader, simpatisan, dan massa pendukung serta seluruh elemen masyarakat, masa tenang menjadi momen untuk introspeksi dan menghormati ruang demokrasi yang telah disepakati bersama.

Ini adalah waktu untuk berhenti dari segala bentuk aktivitas kampanye yang dapat merugikan atau mengganggu keadilan dan kebersihan pemilu. Langkah-langkah strategis dan jurus kampanye harus sudah ditempatkan sebelum masa tenang, dan ketika masa tenang tiba, adalah saatnya untuk menyerahkan keputusan kepada pemilih tanpa intervensi lebih lanjut.

Sementara itu, bagi penyelenggara pemilu, masa tenang adalah periode untuk memastikan bahwa semua persiapan teknis dan administratif telah siap sedia untuk hari pemungutan suara. Kejujuran dan transparansi dalam bekerja bukan hanya sekedar tuntutan moral, tetapi juga syarat mutlak agar demokrasi dapat berjalan dengan bermartabat. Penyelenggara pemilu harus berada di garda terdepan dalam menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.

Untuk pengawas pemilu, masa tenang merupakan waktu yang harus dijalani dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Pengawasan tidak boleh kendur, karena periode ini seringkali dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk melakukan kegiatan yang bisa mengganggu keadilan pemilu. Tugas dan fungsi pengawasan harus dilakukan sesuai dengan amanah yang ada, guna memastikan bahwa semua pihak mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Dalam konteks yang lebih luas, masa tenang dalam pemilu mengingatkan kita semua tentang esensi demokrasi itu sendiri: suara rakyat sebagai penentu arah dan masa depan. Ini adalah saat bagi pemilih untuk merefleksikan pilihan mereka, tanpa tekanan atau gangguan dari kampanye terakhir menit. Masa tenang memberikan ruang yang dibutuhkan untuk pemikiran yang tenang dan matang, yang akan membawa kepada keputusan yang bijak di bilik suara.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi semua pihak untuk menghormati dan mematuhi ketentuan masa tenang. Ini bukan hanya tentang mematuhi aturan, tetapi juga tentang menghormati hak setiap warga negara untuk membuat keputusan yang informasi dan bebas dari pengaruh terakhir menit. Kita semua berharap, dengan pemilu yang LUBER (langsung, umum, bebas, dan rahasia) serta JURDIL (jujur dan adil), demokrasi kita akan semakin matang dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *