RSUP Jayapura Perkuat 7 RSUD Papua Pegunungan

Direktur Utama RSUP Jayapura, Dr. dr. Petronella Marcia Risamasu, M.Ked.Trop., bersama Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS, usai menyerahkan plakat kepada perwakilan tujuh RSUD Papua Pegunungan di RSUP Jayapura, Senin (21/9/2026). Ft: Dok Humas RSUP Jayapura/Narda Margaretha Sinambela

JAYAPURA |MEPAGO.CO — RSUP Jayapura bersama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita memperkuat tata kelola tujuh RSUD di Papua Pegunungan melalui workshop pendampingan dan penguatan kapasitas rumah sakit yang digelar di RSUP Jayapura, Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas rumah sakit daerah, membangun jejaring pelayanan kesehatan, serta meningkatkan sistem rujukan agar masyarakat di Papua Pegunungan dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.

Direktur Utama RSUP Jayapura, Dr. dr. Petronella Marcia Risamasu, M.Ked.Trop, mengatakan peningkatan kapasitas rumah sakit membutuhkan kolaborasi dan pertukaran pengalaman antarrumah sakit.

“Kepada siapapun yang memiliki kemampuan lebih, memiliki pengalaman lebih, itu kita harus belajar. Dan saat ini kakak kami dari Rumah Sakit Umum milik kementerian, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, hadir memberikan materi untuk penguatan tata kelola rumah sakit,” kata Petronella saat membuka workshop.

Menurutnya, sebagai rumah sakit vertikal milik Kementerian Kesehatan di Papua, RSUP Jayapura memiliki peran untuk membangun kolaborasi dengan rumah sakit daerah. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem rujukan dan memastikan pasien memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan medisnya.

“Rujukannya ngalir dengan benar. Karena kalau hanya ingin merujuk saja banyak. Pasien juga kadang ingin dirujuk. Tapi merujuknya dengan benar, itu yang ingin kami harapkan salah satu output dari hasil ini,” ujarnya.

Petronella mengatakan penguatan tata kelola menjadi aspek penting dalam pengembangan rumah sakit daerah, terutama di Papua yang memiliki kondisi geografis dan tantangan akses pelayanan kesehatan yang beragam.

Ia berharap workshop tersebut tidak berhenti pada forum pembelajaran, tetapi menjadi awal terbentuknya kerja sama yang lebih erat antara rumah sakit pengampu dan tujuh RSUD di Papua Pegunungan.

“Mudah-mudahan perkenalan pertama akan membuat hubungannya menjadi lebih mesra, lebih harmonis dan lebih benar, supaya tata kelola rumah sakit di Papua dapat kita handle secara bersama-sama dengan proper,” ucapnya.

Pengampuan Tak Hanya Soal Medis

Sementara itu, Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS, mengatakan pengembangan rumah sakit daerah membutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah.

Menurut Iwan, pengembangan jejaring rumah sakit di Indonesia melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri. Kolaborasi tersebut dinilai penting karena sebagian besar rumah sakit kabupaten dan kota merupakan milik pemerintah daerah.

“Jadi untuk empowering atau pengembangan rumah sakit ini tidak ada kata lain kecuali harus ada kerja sama dari tiga kementerian,” kata Iwan.

Ia menjelaskan, program pengampuan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis medis, tetapi juga mencakup administrasi, keuangan, manajemen peralatan, pendidikan, hingga pelatihan tenaga kesehatan.

“Pengampuan tidak berarti hanya mengajari secara teknis, medis. Lebih dari itu yang kami lakukan. Kami akan menata ulang,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, RSJPD Harapan Kita akan memberikan pendampingan sekaligus menyusun roadmap pengembangan berdasarkan kebutuhan masing-masing rumah sakit. Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu RSUD meningkatkan kapasitas secara bertahap dan membangun tata kelola yang lebih baik.

Iwan mengatakan penguatan rumah sakit daerah juga berkaitan dengan pemerataan akses pelayanan kesehatan. Menurutnya, masyarakat di daerah memiliki hak memperoleh pelayanan kesehatan yang baik tanpa harus selalu bergantung pada rumah sakit rujukan di wilayah lain.

“Karena kami ingin semua masyarakat Indonesia dapat mendapatkan layanan yang terbaik dimanapun dia berada. Seorang yang kena serangan jantung di katakanlah di Wamena, itu sama haknya dengan orang yang masuk ke rumah sakit Harapan Kita,” ujarnya.

Geografis Jadi Pertimbangan

Khusus Papua Pegunungan, Iwan menilai kondisi geografis harus menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan jejaring pelayanan kesehatan.

Kajian geospasial diperlukan untuk melihat akses, kebutuhan pelayanan, serta pola rujukan yang sesuai dengan karakteristik wilayah Papua Pegunungan.

Selain penguatan tata kelola dan pelayanan, program pengampuan juga diarahkan untuk mendorong kemandirian rumah sakit daerah. Rumah sakit pengampu tidak hanya memberikan pendampingan, tetapi juga mendorong RSUD agar mampu mengembangkan kapasitas dan tata kelolanya secara mandiri.

“Karena ke depan benar-benar tidak bisa rumah sakit ini hanya disuapi. Harus mandiri,” tegas Iwan.

Kegiatan pendampingan yang berlangsung selama empat hari di RSUP Jayapura tersebut dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Ribka Haluk, S.Sos., M.M., bersama Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes.

Peserta berasal dari tujuh RSUD di Papua Pegunungan, yakni RSUD Dekai, RSUD Elvrida Sara, RSUD Er Dabi, RSUD Karubaga, RSUD Lukas Enembe, RSUD Oksibil, dan RSUD Tiom.

Kegiatan tersebut turut melibatkan unsur Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas rumah sakit daerah, jejaring pelayanan kesehatan, serta sistem rujukan di Papua Pegunungan. (Humas RSUP Jayapura/Narda Margaretha Sinambela)

Editor: Tamrin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *