Upacara HAB Kementerian Agama Ke-75 Berlangsung Khidmat

Papua60 Dilihat

MEPAGO.CO, JAYAPURA – Kantor wilayah kementerian agama  provinsi Papua menggelar Upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama RI, hari Selasa tanggal 5 Januari 2021 di halaman kantor Kemenag Papua. Tema sentral mengusung Indonesia Rukun.

Kakanwil Kemenag Provinsi Papua, Pdt. Amsal Yowei bertindak menjadi Inspektur Upacara. Upacara berlangsung khidmat, dan protokoler kesehatan tetap dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19, katanya dalam siaran Pers yang dikirim ke Redaksi Mepago, Kamis tanggal 7 Januari 2021.

Menteri  Agama  RI Yaqut  Cholil  Qoumas dalam sambutannya yang dibacakan Amsal Yowei pada Upacara HAB ke-75 mengatakan bahwa Kementerian  Agama  secara  resmi  berdiri  pada tanggal  3  Januari  1946.  Sejak  dibentuk  melalui  usulan sejumlah  tokoh  ulama  dalam  sidang  Komite  Nasional Indonesia  Pusat  (KNIP),  Kementerian  Agama  yang pertama  kali  dipimpin  oleh  Menteri  Agama  Haji Mohammad  Rasjidi  telah  melintasi  sejarahnya  yang panjang.

“Selayaknya kita berterima  kasih  dan  mendoakan semoga  amal  bakti  para  perintis,  pendiri  dan pembangun  Kementerian  Agama  mendapat  ridla  dari Tuhan  Yang  Maha  Kuasa,  dan  kita  semua  diberi kekuatan  dalam  melanjutkan  cita-cita  mereka  untuk kepentingan  bangsa,  negara  dan  agama,” katanya.

Di  usia  75  tahun  Kementerian  Agama,  mari  kita memaknai  segala  prestasi  yang  telah  dicapai  dan menempatkannya sebagai momentum untuk menebalkan  niat  dan  motivasi  dalam  mencapai  yang lebih  baik  lagi  di  masa  mendatang.

Kementerian  Agama memberikan  anugerah  penghargaan  dan  apresiasi kepada  seluruh  elemen  umat  beragama  tanpa membedakan  satu  sama  lain,  atas  dukungan,  sinergi dan kebersamaannya Kementerian  Agama.     mengawal Saudara-saudara  yang  berbahagia, tugas-tugas Peringatan  Hari  Amal  Bakti  tahun  ini  mengusung tema  “Indonesia  Rukun”.  Tema  ini  sejalan  dengan semangat  nasional  yang  menempatkan  kerukunan umat  beragama  sebagai  salah  satu  modal  bangsa  ini untuk  maju.  Tanpa  kerukunan,  akan  sukar  menggapai cita-cita  besar  bangsa  agar  sejajar  dengan  bangsa  lain di  dunia.

Pengembangan toleransi dan kerukunan antarumat  beragama  merupakan  karya  bersama  para Tokoh  Agama,  para  Menteri  Agama  dan  aparatur Kementerian  Agama  dari  masa  ke  masa.  Tanpa toleransi, tidak  ada  kerukunan.  Toleransi  dan kerukunan  antarumat  beragama  dilakukan  dengan tanpa  mengusik  akidah  dan  keimanan  masing-masing pemeluk  agama.

Pengalaman  membuktikan  toleransi dan  kerukunan  tidak  tercipta  hanya  dari  satu  pihak, sedangkan  pihak  yang  lain  berpegang  pada  hakhaknya  sendiri.  Dewasa  ini,  kita  mengembangkan moderasi  beragama,  agar  toleransi  dan  kerukunan yang  sudah  ada  lebih  mengakar  di  dalam  kehidupan sehari-hari  bangsa  kita. Di  negara  yang  berdasarkan  Pancasila  ini,  tidak ada  diktator  mayoritas  atau  tirani  minoritas.

Dalam kaitan  itu,  semua  umat  beragama  dituntut  untuk  saling menghormati  hak  dan  kewajiban  masing-masing,  di mana hak  seseorang  dibatasi  oleh  hak-hak  orang  lain. Pancasila  adalah  ideologi  pemersatu  yang merangkum  nilai-nilai  keindonesiaan  sebagai  bangsa yang  beragama.

Sila  pertama  dan  utama  Pancasila, yaitu  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa,  meneguhkan identitas  nasional  sebagai  bangsa  yang  beragama  dan bermoral.  Komitmen  religius  dan  moralitas  menjadi barometer  apakah  suatu  bangsa  dapat  menjadi  bangsa yang  besar  atau  tidak.  Sejalan  dengan  itu,  tugas  dan tanggungjawab  sejarah  bagi  seluruh  bangsa  Indonesia adalah  mengisi  negara  yang  ber-Ketuhanan  Yang

Maha  Esa  ini  sejalan  dengan  asas  demokrasi  dan kedaulatan  rakyat.  Bangsa  Indonesia,  dari  generasi  ke generasi  harus  bisa  menjaga  komitmen  nasional tentang  landasan  bernegara  di  tengah  dahsyatnya percaturan  global  di  bidang  geopolitik,  ekonomi, kebudayaan,  ilmu  pengetahuan,  teknologi  dan  lain-lain.

Dalam  kesempatan  ini,  saya  ingin  mengingatkan tentang  semangat  Kementerian  Agama  baru  dan semangat  baru  dalam  mengelola  Kementerian  Agama. Semangat  Kementerian  Agama  baru  itu  dapat diterjemahkan  dengan beberapa  kata  kunci. Pertama,  manajemen  pelayanan  dan  tata  kelola birokrasi  yang  harus  semakin  baik,  termasuk  di dalamnya  pelayanan  penyelenggaraan  haji  dan  umroh.

Sebelum  mengakhiri  sambutan  ini,  saya mengajak  kita  semua  mari  mengedepankan  akal  sehat dan  hikmah/kebijaksanaan  dalam  menyikapi  berbagai persoalan  keumatan  dan  kebangsaan  saat  ini  maupun di  masa-masa  yang akan  datang. (***)

 

Editor: Jery Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *