Bupati Waropen Fransiscus Xaverius Mote bersama Wakil Bupati Yowel Boari menghadiri perayaan 100 Tahun Pekabaran Injil di Jemaat GKI Silo Pulau Nau, Minggu (26/4/2026). ( Ft: Tamrin/mepago.co)
WAROPEN | MEPAGO.CO – Gema syukur menyelimuti Jemaat GKI Silo Pulau Nau saat merayakan 100 tahun Pekabaran Injil di Pulau Nau, Kabupaten Waropen, Minggu (26/4/2026).
Perayaan satu abad ini tidak hanya menjadi momentum refleksi iman, tetapi juga menandai komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Waropen untuk mengembangkan Pulau Nau sebagai destinasi wisata religi unggulan.
Hadir dalam momen bersejarah tersebut, Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si bersama Wakil Bupati Yowel Boari, Sekda Bob Woriori, jajaran pimpinan OPD, serta unsur Forkopimda TNI dan Polri.
Kemeriahan diawali dengan prosesi arak-arakan obor Pekabaran Injil yang dimulai dari tugu salib di pesisir pantai—sebagai simbol masuknya terang Injil—menuju lokasi gereja lama, dan berakhir di gedung gereja baru.
Ibadah syukur dipimpin oleh Pdt. Yunus Mambaul, S.Th dengan tema: “Kasih Kristus Menggerakan Gereja Mewujudkan Keadilan, Perdamaian dan Kesejahteraan.”
Dalam sambutannya, Bupati FX Mote menegaskan bahwa Pulau Nau memiliki posisi strategis, baik secara historis maupun dalam pembangunan daerah ke depan.
“Pulau Nau adalah gerbang masuknya Injil di Waropen. Ini akan menjadi perhatian serius pemerintah, bukan hanya karena nilai sejarah, tetapi juga sebagai kawasan wisata religi yang harus dikembangkan,” tegasnya.
Ia menyebut peringatan 100 tahun ini sebagai peristiwa iman yang sarat makna, sekaligus momentum untuk merenungkan bagaimana Injil telah mengubah pola hidup dan cara berpikir masyarakat dari masa ke masa.
“Injil hadir dengan kerendahan hati dan kasih. Selama satu abad, iman telah ditempa oleh berbagai tantangan hingga menjadi fondasi kuat bagi kehidupan masyarakat saat ini,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga dan melanjutkan warisan iman tersebut.
“Mari kita hidupkan semangat Ndi Sowosio Ndi Korako—Kita Bersatu, Kita Kuat, demi mewujudkan Waropen yang bangkit, mandiri, dan sejahtera,” pungkasnya.
Inilah Sejarah Singkat Pekabaran Injil di Pulau Nau
Masuknya Injil di Tanah Papua berawal dari pelayanan Karl Wilhelm Otto dan Johann Gottlob Geissler yang tiba di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 dengan doa bersejarah: “Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini.”
Terang Injil kemudian menjalar ke berbagai wilayah, termasuk Waropen. Pada 1914, sejumlah tokoh lokal menyeberangi lautan menuju Mansinam untuk mencari terang Kristus.
Tahun 1915, utusan Injil dari Mansinam dengan kapal Utrecht mengantar Guru Injil Yakop Latumahina ke Marearotu untuk melayani masyarakat.
Akibat konflik antarsuku, pada 1918 sebagian masyarakat berpindah ke Pulau Nau. Namun praktik kehidupan lama masih berlangsung, sehingga para leluhur kembali meminta pelayanan Injil.
Puncaknya, pada 26 April 1926, Guru Yakop Latumahina tiba di Pulau Nau dan memanjatkan doa:
“Syukur kepada-Mu Allah Bapa, Engkau menghantar kami dengan selamat… kami akan memberitakan nama-Mu.”
Sejak saat itu, pelayanan Injil berkembang pesat. Pos pelayanan dan sekolah pertama didirikan, dengan murid-murid awal yang kemudian menjadi pelayan jemaat.
Terang kasih Kristus pun terus menyala dari Pulau Nau, menjangkau hingga ke seluruh wilayah pesisir dan dataran Waropen.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







