Ketum KONI Pusat Apresiasi Papua Jadi Provinsi Olahraga

Olahraga, Utama563 Dilihat

MEPAGO.CO. JAYAPURA- Ketua Umum (Ketum) KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman mengatakan kesuksesan PON XX/2021 tidak berakhir begitu saja, namun warisannya berupa venue olahraga harus dimanfaatkan agar kembali membuat kesuksesan dalam mengantar atlet meraih prestasinya.

“Mari kita pikirkan sekarang setelah PON selesai, apa yang akan kita kerjakan kedepan. Oleh karena itu, Musorprov menjadi sangat penting dalam menentukan,” kata Ketum KONI Pusat berharap Musorprov menghasilkan keputusan strategis, terutama sebagaimana arahan Gubernur Papua terkait menjadikan Papua ‘Provinsi Olahraga,’’ kata Marciano Norman pada saat menyampaikan kata sambutanya pada pembukaan  Musorprov KONI Papua di Gedung Sasana Krida, Kota Jayapura, Papua Senin tanggal 13 Juni 2022  malam.

Kehadiran Ketum KONI Pusat pada Musorprov KONI Papua yakni sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat Papua yang telah sukses menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021.

Dikatakanya, sebagai nbentuk apresiasi, rasa bangga, dan terima kasih, saya Ketua Umum KONI Pusat, mewakili 33 provinsi di seluruh Indonesia, mewakili 72 cabang olahraga, dan 6 organisasi fungsional hadir di sini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Ketua Umum KONI Papua sekaligus Gubernur dan juga Ketua PB.PON XX/2021 Papua yaiitu Bapak Lukas Enembe,” ujar Marciano Norman.

Pelaksanaan PON XX sangat diapresiasi karena digelar di kondisi sulit Pandemi Covid-19 namun dapat terselenggara dengan sukses. “Bicara PON XX 2021, dinamikanya sangat tinggi karena PON XX ini digelar pada kondisi Covid-19,”tambahnya.

Bahkan Marciano juga memuji Opening Ceremony Pembukaan PON XX 2021 Papua jauh lebih baik ketimbang opening ceremony SEA Games Vietnam. “ Pembukaan PON saya nilai sekelas Asian Games,”imbuhnya.

Tak lupa pula ketua umum KONI Pusat meminta venue di Papua dimanfaatkan untuk dijadikan tempat pemusatan latihan nasional. ‘’Ada saya lihat beberapa cabang olahraga bisa dilakukan di Papua karena aset itu adalah aset yang berharga,” katanya. (***)

Editorial : Robin Sinambela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *