Yance Rabrageri
WAROPEN | MEPAGO.CO – Koordinator Wilayah (Korwil) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Waropen, Yance Rabrageri, menegaskan bahwa siswi SMA Urfas yang sempat dilarikan ke Puskesmas Urfas setelah mengonsumsi makanan MBG, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, mengalami malaria mix, bukan akibat makanan MBG.
Penegasan itu disampaikan Yance saat memberikan klarifikasi kepada media terkait informasi seorang siswi yang muntah hingga mengalami kejang-kejang setelah mengonsumsi MBG, Rabu (30/9/2026).
Yance mengatakan, setelah pihaknya menerima informasi mengenai kondisi siswi tersebut, dirinya bersama tim langsung turun ke Puskesmas Urfas untuk memastikan kondisi korban.
Menurutnya, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa siswi tersebut sudah mengalami sakit sejak dari rumah sebelum berangkat ke sekolah.
“Setelah kami mendapat informasi, kami langsung turun ke Puskesmas Urfas. Setelah diperiksa dokter, korban diketahui mengalami malaria mix. Jadi, bukan karena makanan MBG,” jelas Yance.
Ia mengakui bahwa korban memang sempat muntah setelah mengonsumsi makanan MBG. Namun, menurut keterangan medis yang diterima pihaknya, muntah dan kejang-kejang yang dialami korban berkaitan dengan kondisi penyakit malaria yang dideritanya.
“Memang korban setelah makan MBG kemudian muntah dan mengalami kejang-kejang. Tetapi setelah diperiksa dokter, penyebabnya adalah malaria mix. Jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan makanan MBG,” tegasnya.
Yance menambahkan, kondisi korban saat itu cukup berat karena mengalami malaria dengan kondisi yang disebutnya tinggi hingga menyebabkan korban mengalami kejang-kejang.
Ia juga menegaskan bahwa makanan MBG yang dikonsumsi korban telah diperiksa dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter bukan merupakan pemicu muntah maupun kejang-kejang tersebut.
Minta Masyarakat Tidak Terburu-buru Sebarkan Informasi
Menyikapi munculnya informasi yang mengaitkan kejadian tersebut dengan dugaan keracunan makanan MBG, Yance meminta masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan maupun menyebarkan informasi sebelum adanya hasil pemeriksaan medis.
Ia secara khusus mengingatkan agar informasi mengenai dugaan keracunan MBG tidak langsung disebarkan melalui media sosial tanpa dasar pemeriksaan yang jelas.
“Jangan sembarangan menaikkan berita keracunan MBG kalau belum ada bukti atau hasil pemeriksaan dokter. Sebaiknya kita cek dulu kebenarannya, kemudian baru kita naikkan,” tegasnya.
Menurut Yance, pihak MBG terbuka terhadap setiap kritik dan evaluasi. Jika dalam pelaksanaan program ditemukan kesalahan yang memang berasal dari pihak MBG, pihaknya menyatakan siap bertanggung jawab dan melakukan perbaikan.
“Kalau memang MBG ada kesalahan, kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Waropen. Dari setiap kesalahan dan kekurangan, kami akan lebih jeli lagi,” katanya.
Ia memastikan pengawasan terhadap proses penyediaan makanan akan terus diperketat, mulai dari dapur, proses memasak, kebersihan hingga tahapan lainnya sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Intinya kami tidak ingin memberikan MBG yang membuat masyarakat sakit. Karena itu, mulai dari dapur, proses memasak, kebersihan dan semuanya akan kami perhatikan sesuai SOP,” ujarnya.
Yance juga menyebutkan bahwa orang tua korban mengakui anaknya memang sudah mengalami sakit sebelum berangkat dari rumah.
Meski demikian, sebagai Korwil MBG Kabupaten Waropen, Yance tetap menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan keluarganya atas kejadian tersebut.
“Kami tetap menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan orang tua. Yang terpenting kondisi korban segera mendapat penanganan dan bisa kembali sehat,” pungkasnya.
Penulis: Tamrin Sinambela
Editor: Tamrin Sinambela







